Paradoks hedonisme

Paradoks hedonisme. 

Paradoks hedonisme (juga disebut paradoks kesenangan) mengacu pada kesulitan praktis yang dihadapi dalam mengejar kesenangan. pencarian kesenangan terus-menerus justru tidak menghasilkan kesenangan atau kebahagiaan yang nyata hasrat untuk mengejar kesenangan justru membuat tidak dapat merasakan kesenangan yang sesungguhnya. Semakin kita mengejar kenikmatan, semakin sulit kita merasakan kenikmatan tersebut. Orang yang paling ngotot mengejar kebahagiaan biasanya adalah orang yang tidak bahagia orang akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan justru ketika ia mengalihkan fokusnya untuk melayani pihak lain atau mengabdi pada tujuan yang lebih besar. Seperti kata Victor Frankl dalam buku man's search for mea ..ning: 

"Kebahagiaan adalah hasil samping yang tak sengaja saat kita mengartikan diare untuk tujuan yang lain yang lebih besar atau saat kita menyerahkan diri pada orang lain (atau zat di luar diri kita)."

 Kebahagiaan tidak dapat dikejar karena ia bukan hasil akhir, iya adalah efek samping dan tidak berarti kesenangan atau kenikmatan itu buruk. Kenikmatan dapat berkontribusi pada kebahagiaan pada level tertentu. Namun, jangan jadikan kenikmatan sebagai tujuan utama, jadikan ia sebagai efek samping dari apa yang kita lakukan. Kesenangan itu unik, ia menyimpan paradoks justru bila kita terus-terusan mencari kesenangan kita tidak akan bertemu kesenangan yang sesungguhnya. Orang-orang yang mencari kebahagiaan menandakan ia tidak bahagia. Orang yang mencari kesenangan berarti ia belum senang. Orang yang bahagia adalah orang yang menikmati situasi kondisi kapasitas dirinya sekarang saat ini, bukan orang yang mencari kesenangan. 

Dari mana datangnya kebahagiaan? Ngikutin pandangan Frankl: kebahagiaan adalah hasil samping atau efek samping yang tidak disengaja. Bila kita ingin senang, ingin bahagia, justru jangan menjadikan kesenangan atau kebahagiaan sebagai tujuan, namun biarlah ia menjadi efek samping dari kebenaran kebaikan yang kita hidupkan. Maka lakukan semua yang ideal, semua yang baik, semua yang indah, yang kita tahu, kita mampu, efeknya pasti nanti menyenangkan dan membahagiakan. Dari perspektif paradoks hedonisme, Hidup memang mencari kesenangan, tapi bila kita mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk mencari kesenangan tidak bertemu dengan kesenangan. Karena kita dalam kondisi mencari, tidak sempat menikmati hidup, makan nikmati hidup, jalankan kebaikan kebenaran yang kita tahu, diantara efeknya pasti nanti kita bertemu kesenangan dan kebahagiaan. 

"Kebahagiaan tidak dapat dikejar karena ia bukan hasil akhir, dia adalah efek samping."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Penyokong Kapitalisme Eksploitatif?

Cinta dan Keterikatan.