Kita Penyokong Kapitalisme Eksploitatif?

Ilustrasi gambar by pinterest 


Malam ini, aku duduk di sudut kafe kecil berlampu temaram. Aromanya harum, musiknya pelan, desainnya estetik – semua terasa nyaman. Di depanku, seorang barista sedang menyiapkan pesanan dengan wajah menahan lelah. Aku perhatikan matanya, sayu. Mungkin ia sudah berdiri sejak pagi, atau semalam pulang larut karena closing shift.

Saat itu aku sadar, selama ini aku hanya datang, duduk, memotret kopi untuk Instagram Story, lalu pulang dengan perasaan puas. Tapi aku tak pernah bertanya, “Bagaimana kabar mereka yang melayaniku hari ini?”

Banyak tempat seperti ini menjual keindahan semu. Lampu gantung cantik, dinding Instagramable, kursi empuk – namun di balik semua itu ada pekerja yang haknya belum tentu terpenuhi. Mereka bekerja delapan jam bahkan lebih, dengan gaji yang tak sebanding. Kadang tanpa insentif lembur meski pulang larut malam.

Kita mungkin menyangkal, “Ah, cuma ngopi kok.” Tapi di sisi lain, ada pekerja yang pulang dengan punggung sakit, gaji kecil, dan mimpi yang makin hari makin terasa jauh.

Lalu uang yang kita bayarkan? Sebagian besarnya menambah modal sang owner untuk flexing di Instagram, memamerkan gaya hidup yang diam-diam kita kagumi.

Akhirnya, anak-anak kita tumbuh menganggap hidup hanyalah tentang terlihat kaya dan bahagia di media sosial. Terjadilah kedangkalan makna kehidupan. Kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang diri kita, tetapi juga tentang keadilan bagi sesama.

Aku menulis ini bukan untuk melarangmu ngopi, tapi untuk mengingatkan kita semua – termasuk diriku – bahwa di balik secangkir kopi dan foto estetikmu, ada manusia lain yang bekerja keras.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya, untuk siapa kita hidup dan membelanjakan uang kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta dan Keterikatan.

Paradoks hedonisme