Cinta dan Keterikatan.
Pagi ini aku teringat sebuah ayat Al-Qur'an yang mengatakan "istri dan anak adalah cobaan." Aku merenung lama tentang makna kata cobaan itu.
Lalu aku teringat seorang influencer yang selama ini aku kagumi. Dia memiliki visi besar untuk negeri ini, tapi akhir-akhir ini aku melihat dia lebih banyak menampilkan project sang istri – project remeh dengan gaya modern yang bagiku tidak pantas. Aku tidak melihat nilai perjuangan di sana, hanya pencitraan semu demi kesenangan visual. Aku bertanya, benarkah orang yang ingin membawa perubahan besar mengisi waktunya dengan project semacam itu?
Tapi aku juga sadar, dia hanya seorang suami dan ayah dari anak-anaknya yang mencintai keluarganya. Dia ingin mereka aman dan bahagia. Dan di situ aku melihat kelemahannya – cinta yang menjadi belenggu. Bukan berarti mencintai keluarga itu salah, tapi ketika cinta itu menurunkan kualitas perjuangan dan idealismu, bukankah itu sebuah musibah ?
Aku takut satu hal: ketika lawan tahu kelemahanmu, mereka akan menekannya habis-habisan. Dan banyak anak muda menjadikan dia role model, menaruh harapan besar padanya. Jika dia tumbang karena kelemahan itu, siapa yang akan melanjutkan perjuangan?
Aku menulis ini bukan untuk menuntut orang lain menjadi sempurna. Aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri:
Jika aku ingin membawa perubahan besar, aku harus memilih pasangan yang siap berlari, bukan yang masih belajar berjalan.
Aku tidak ingin menua hanya untuk melatih seseorang memahami langkahku. Umurku terlalu terbatas. Aku ingin berlari dengan seseorang yang sudah menyiapkan jiwanya untuk perjuangan, bukan sekadar kebahagiaan kecil dunia.
Karena pada akhirnya, setiap detik hidup ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Komentar
Posting Komentar