Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Paradoks hedonisme

Paradoks hedonisme.  Paradoks hedonisme (juga disebut paradoks kesenangan) mengacu pada kesulitan praktis yang dihadapi dalam mengejar kesenangan. pencarian kesenangan terus-menerus justru tidak menghasilkan kesenangan atau kebahagiaan yang nyata hasrat untuk mengejar kesenangan justru membuat tidak dapat merasakan kesenangan yang sesungguhnya. Semakin kita mengejar kenikmatan, semakin sulit kita merasakan kenikmatan tersebut. Orang yang paling ngotot mengejar kebahagiaan biasanya adalah orang yang tidak bahagia orang akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan justru ketika ia mengalihkan fokusnya untuk melayani pihak lain atau mengabdi pada tujuan yang lebih besar. Seperti kata Victor Frankl dalam buku man's search for mea ..ning:  "Kebahagiaan adalah hasil samping yang tak sengaja saat kita mengartikan diare untuk tujuan yang lain yang lebih besar atau saat kita menyerahkan diri pada orang lain (atau zat di luar diri kita)."  Kebahagiaan tidak dapat dikejar karena ia buk...

Kita Penyokong Kapitalisme Eksploitatif?

Gambar
Ilustrasi gambar by pinterest   Malam ini, aku duduk di sudut kafe kecil berlampu temaram. Aromanya harum, musiknya pelan, desainnya estetik – semua terasa nyaman. Di depanku, seorang barista sedang menyiapkan pesanan dengan wajah menahan lelah. Aku perhatikan matanya, sayu. Mungkin ia sudah berdiri sejak pagi, atau semalam pulang larut karena closing shift. Saat itu aku sadar, selama ini aku hanya datang, duduk, memotret kopi untuk Instagram Story, lalu pulang dengan perasaan puas. Tapi aku tak pernah bertanya, “Bagaimana kabar mereka yang melayaniku hari ini?” Banyak tempat seperti ini menjual keindahan semu. Lampu gantung cantik, dinding Instagramable, kursi empuk – namun di balik semua itu ada pekerja yang haknya belum tentu terpenuhi. Mereka bekerja delapan jam bahkan lebih, dengan gaji yang tak sebanding. Kadang tanpa insentif lembur meski pulang larut malam. Kita mungkin menyangkal, “Ah, cuma ngopi kok.” Tapi di sisi lain, ada pekerja yang pulang dengan punggung sakit, gaji ...

Cinta dan Keterikatan.

Pagi ini aku  teringat sebuah ayat Al-Qur'an yang mengatakan "istri dan anak adalah cobaan." Aku merenung lama tentang makna kata cobaan itu. Lalu aku teringat seorang influencer yang selama ini aku kagumi. Dia memiliki visi besar untuk negeri ini, tapi akhir-akhir ini aku melihat dia lebih banyak menampilkan project sang istri – project remeh dengan gaya modern yang bagiku tidak pantas. Aku tidak melihat nilai perjuangan di sana, hanya pencitraan semu demi kesenangan visual. Aku bertanya, benarkah orang yang ingin membawa perubahan besar mengisi waktunya dengan project semacam itu? Tapi aku juga sadar, dia hanya seorang suami dan ayah dari anak-anaknya yang mencintai keluarganya. Dia ingin mereka aman dan bahagia. Dan di situ aku melihat kelemahannya – cinta yang menjadi belenggu. Bukan berarti mencintai keluarga itu salah, tapi ketika cinta itu menurunkan kualitas perjuangan dan idealismu, bukankah itu sebuah musibah ? Aku takut satu hal: ketika lawan tahu kelemahanmu,...